Latar cerita ini hari Jumat
saat menunggu waktu dzuhur di Masjid. Saya dan rekan saya berangkat dari hotel
sejak jam 9 an karena khawatir tidak akan mendapat tempat di area mataf. Benarlah,
karena mendekati romadhon suasana memang sangaaaat ramai, kami keluar hotel dan
mendekati halaman masjid antrian sudah mengular panjang dan pagar pembatas
sudah ditutup oleh asykar.
Alhamdulillah kami bisa
masuk dan mendapat tempat beratap di depan kakbah persis. Walaupun cukup teduh
karena beratap, persis di depan tempat kami duduk hanya beratap langit. Tempat
burung dara hinggap dan berkeliaran.
Di hadapan kami matahari bersinar
saaaaaaangat terik. Tidak terbayang panasnya saat itu sampai kacamata tidak
pernah lepas, topi bertengger di kepala dan sajadah kami gunakan di atas
kepala. Bayangkan harus menunggu 3 jam lebih disana dan hanya duduk, hal yang
tidak pernah saya lakukan ketika di Indonesia. Dimana lagi kami sanggup
bertahan dan bersabar kepanasan lebih dari 3 jam kalau tidak disana, Alhamdulillah.
Sembari menunnggu waktu
dzuhur, segalanya kami lakukan, dari ngobrol sampai bosan, mengaji dari
bersuara sampai suara hilang, dzikir sampai terkantuk-kantuk. Untuk mengusir
bosan dan kantuk, ingatlah saya bahwa saya punya keluarga yang bisa dihubungi
(video call). Dalam hati saya membatin, biarlah nanti mereka berdoa sendiri
ketika saya telpon. Akhirnya selesailah saya telfon sampai cerita ini terjadi.
15 menit menelpon, yang
tidak saya sadari, ternyata ada yang memperhatikan saya dari belakang. Yak,
orang di sebelah saya. Seorang ibu-ibu asal urdu yang menetap di England.
awalnya dia hanya diam, setelah saya selesai menelfon dia mencolek tangan saya.
Bertanya, apakah saya sudah selesai menelpon. Saya jawab iya. Di perbincangan
selanjutnya akhirnya dia mengutarakan keinginannya untuk meminta wifi untuk
beliau menelpon anaknya di England.
Dalam hati saya berujar,
ga ada angin ga ada hujan minta gratisan. Timbullah pikiran buruk di kepala saya, wah
jangan-jangan ibu ini mau nyadap, atau wah gimana kalo gini gimana kalo gitu,
gimana kalo roaming saya habis nelpon ke England gais. Tapi seberapapun khawatirnya
kepala saya memikirkan segala kemungkinan, akhirnya saya tetap menyetujui wifi
untuk 10 menit saja, meskipun akhirnya lebih dan saya hentikan paksa karena handphone
saya mulai panas.
Setelahnya ibu-ibu terus berterima
kasih, meminta maaf karena tidak ontime, dan terus mengajak ngobrol
meski tidak begitu saya hiraukan. Dan begitulah, sempat-sempatnya saya di
hadapan kakbah masih bersikap dan berfikir buruk. Nah, pada saat itu mungkin Allah
ingin memperingatkan saya bahwa jangan disimpan pikiran buruk itu, kamu sedang
berada di rumah-KU.
Tidak lama setelah adegan
wifi itu, di depan dan belakang sajadah saya terkena kotoran burung dara
berwarna hijau matcha dan yaks. Walaupun menurut teman saya tidak najis tetap
saja menjijikkan melihatnya. Baju dan jilbab saya memang tidak terkena kotoran
burung tersebut, tapi dikelilingi kotoran burung cukup membuat saya kesal.
Panas terik, menunggu
lama, wifi dadakan, hp panas, terkena kotoran burung, kejadian menyebalkan beruntun di hari jumat yang
cukup merubah mood saya. Lagipula saya tidak mungkin meninggalkan tempat
ini untuk membersihkan atau mencari air karena potensi kehilangan tempat. Di kanan
kiri saya sudah banyak bersiap orang-orang yang hendak mengambil tempat saya. kondisi
di area mataf saat seperti ini seperti perang urat tersembunyi untuk mendapat
tempat wkwk, tidak jarang teman saya bercekcok atau memarahi orang yang dengan
sengaja mengambil tempat tanpa izin dan membuat tempat kami sangat sempit. Tapi
begitulah disana, nikmat yang tiada dua.
Back to story, singkat cerita, saya yang sebel
liat kotoran warna matcha tadi tiba-tiba disenggol kedua kali oleh ibu
tadi. Ibu-ibu yang membuat saya suudzon tadi membantu membersihkan kotoran matcha,
membantu menjaga tempat saya ketika saya mengambil al-quran, membantu
mengembalikan alquran dan bahkan mengambilkan saya zam-zam setelahnya. Menyadari
hal tersebut saya malu, karena bahkan pikiran buruk saya di tempat ini dibalas
hal baik oleh Allah.
Mungkin ibu tadi hanya
bersikap baik membalas apa yang telah saya lakukan, atau barangkali memang ibu
tadi orang baik yang sangat rindu anaknya tapi lupa tidak membeli kuota roaming
ibadah (walaupun tetap ada saja pikiran, kok bisa orang England gabisa
beli paket wkkw). Tapi begitulah, di tempat ini, segala yang saya lakukan ditegur
langsung, kata-kata keluhan atau guyonan tidak sengaja yang terlontar, pikiran
buruk yang tersimpan, bahkan kemarahan terpendam langsung dijawab Allah seketika
yang menyadarkan bahwa saya harus menjaga mulut hati dan pikiran.
namun tidak hanya pikiran
buruk, pikiran baik, niat baik dan perbuatan baik saya juga langsung dibalas
segera. Allah menunjukkan kasih sayangnya langsung di hadapan saya dan di waktu
itu juga. Benar bahwa segala kebaikan dan keburukan akan dibalas nantinya,
semoga kita bisa terus mengilhaminya.
Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung.
Latifa Mustafida