REVIEW MAKKAH MADINAH : JANGAN SUUDZON!

Latar cerita ini hari Jumat saat menunggu waktu dzuhur di Masjid. Saya dan rekan saya berangkat dari hotel sejak jam 9 an karena khawatir tidak akan mendapat tempat di area mataf. Benarlah, karena mendekati romadhon suasana memang sangaaaat ramai, kami keluar hotel dan mendekati halaman masjid antrian sudah mengular panjang dan pagar pembatas sudah ditutup oleh asykar.

Alhamdulillah kami bisa masuk dan mendapat tempat beratap di depan kakbah persis. Walaupun cukup teduh karena beratap, persis di depan tempat kami duduk hanya beratap langit. Tempat burung dara hinggap dan berkeliaran.

Di hadapan kami matahari bersinar saaaaaaangat terik. Tidak terbayang panasnya saat itu sampai kacamata tidak pernah lepas, topi bertengger di kepala dan sajadah kami gunakan di atas kepala. Bayangkan harus menunggu 3 jam lebih disana dan hanya duduk, hal yang tidak pernah saya lakukan ketika di Indonesia. Dimana lagi kami sanggup bertahan dan bersabar kepanasan lebih dari 3 jam kalau tidak disana, Alhamdulillah.




Sembari menunnggu waktu dzuhur, segalanya kami lakukan, dari ngobrol sampai bosan, mengaji dari bersuara sampai suara hilang, dzikir sampai terkantuk-kantuk. Untuk mengusir bosan dan kantuk, ingatlah saya bahwa saya punya keluarga yang bisa dihubungi (video call). Dalam hati saya membatin, biarlah nanti mereka berdoa sendiri ketika saya telpon. Akhirnya selesailah saya telfon sampai cerita ini terjadi.

15 menit menelpon, yang tidak saya sadari, ternyata ada yang memperhatikan saya dari belakang. Yak, orang di sebelah saya. Seorang ibu-ibu asal urdu yang menetap di England. awalnya dia hanya diam, setelah saya selesai menelfon dia mencolek tangan saya. Bertanya, apakah saya sudah selesai menelpon. Saya jawab iya. Di perbincangan selanjutnya akhirnya dia mengutarakan keinginannya untuk meminta wifi untuk beliau menelpon anaknya di England.

Dalam hati saya berujar, ga ada angin ga ada hujan minta gratisan.  Timbullah pikiran buruk di kepala saya, wah jangan-jangan ibu ini mau nyadap, atau wah gimana kalo gini gimana kalo gitu, gimana kalo roaming saya habis nelpon ke England gais. Tapi seberapapun khawatirnya kepala saya memikirkan segala kemungkinan, akhirnya saya tetap menyetujui wifi untuk 10 menit saja, meskipun akhirnya lebih dan saya hentikan paksa karena handphone saya mulai panas.

Setelahnya ibu-ibu terus berterima kasih, meminta maaf karena tidak ontime, dan terus mengajak ngobrol meski tidak begitu saya hiraukan. Dan begitulah, sempat-sempatnya saya di hadapan kakbah masih bersikap dan berfikir buruk. Nah, pada saat itu mungkin Allah ingin memperingatkan saya bahwa jangan disimpan pikiran buruk itu, kamu sedang berada  di rumah-KU.

Tidak lama setelah adegan wifi itu, di depan dan belakang sajadah saya terkena kotoran burung dara berwarna hijau matcha dan yaks. Walaupun menurut teman saya tidak najis tetap saja menjijikkan melihatnya. Baju dan jilbab saya memang tidak terkena kotoran burung tersebut, tapi dikelilingi kotoran burung cukup membuat saya kesal.

Panas terik, menunggu lama, wifi dadakan, hp panas, terkena kotoran burung,  kejadian menyebalkan beruntun di hari jumat yang cukup merubah mood saya. Lagipula saya tidak mungkin meninggalkan tempat ini untuk membersihkan atau mencari air karena potensi kehilangan tempat. Di kanan kiri saya sudah banyak bersiap orang-orang yang hendak mengambil tempat saya. kondisi di area mataf saat seperti ini seperti perang urat tersembunyi untuk mendapat tempat wkwk, tidak jarang teman saya bercekcok atau memarahi orang yang dengan sengaja mengambil tempat tanpa izin dan membuat tempat kami sangat sempit. Tapi begitulah disana, nikmat yang tiada dua.

Back to story, singkat cerita, saya yang sebel liat kotoran warna matcha tadi tiba-tiba disenggol kedua kali oleh ibu tadi. Ibu-ibu yang membuat saya suudzon tadi membantu membersihkan kotoran matcha, membantu menjaga tempat saya ketika saya mengambil al-quran, membantu mengembalikan alquran dan bahkan mengambilkan saya zam-zam setelahnya. Menyadari hal tersebut saya malu, karena bahkan pikiran buruk saya di tempat ini dibalas hal baik oleh Allah.

Mungkin ibu tadi hanya bersikap baik membalas apa yang telah saya lakukan, atau barangkali memang ibu tadi orang baik yang sangat rindu anaknya tapi lupa tidak membeli kuota roaming ibadah (walaupun tetap ada saja pikiran, kok bisa orang England gabisa beli paket wkkw). Tapi begitulah, di tempat ini, segala yang saya lakukan ditegur langsung, kata-kata keluhan atau guyonan tidak sengaja yang terlontar, pikiran buruk yang tersimpan, bahkan kemarahan terpendam langsung dijawab Allah seketika yang menyadarkan bahwa saya harus menjaga mulut hati dan pikiran.

namun tidak hanya pikiran buruk, pikiran baik, niat baik dan perbuatan baik saya juga langsung dibalas segera. Allah menunjukkan kasih sayangnya langsung di hadapan saya dan di waktu itu juga. Benar bahwa segala kebaikan dan keburukan akan dibalas nantinya, semoga kita bisa terus mengilhaminya.

Semoga bermanfaat!

 

 

Best Regards, Latifa Mustafida

Tidak ada komentar

Terima kasih telah berkunjung.

Latifa Mustafida