REVIEW MAKKAH MADINAH: SETELAH KESABARAN ADA KEGEMBIRAAN

Cerita ini dibuat hanya untuk diambil ibrahnya. Sore itu, sebelum bersiap ke masjid, saya dan rekan sekamar XY mengobrol seperti biasa, pada satu moment X kelepasan berkata kasar kepada Y. Alasannya sepele, Y meremas botol milik X yang rencananya akan diisi ulang X di masjid.

Saya rasa Y melakukannya tanpa sadar, mungkin kebiasaannya tidak suka melihat sampah berserakan ia meremasnya supaya bisa langsung dibuang ke tempat sampah. Entah pasal apa – kaget, marah atau (mungkin kebiasaan) X tiba-tiba berkata kasar menyebut hewan di depan Y. Meski tidak berniat buruk, saya tau raut wajah Y berubah. Y terdiam lama namun setelahnya saya lupa menanyakan bagaimana responnya karena kami mengejar waktu shalat.

Selanjutnya, Y bercerita, awalnya dia tidak marah, tapi karena dia tidak pernah berkata kasar apalagi mengumpati orang lain, kata-kata itu terus terngiang di telinga dan pikiran Y.  Y tidak menunjukkannya, dia hanya bilang kepada saya bahwa Y mencoba melupakannya dengan terus berdzikir di sepanjang jalan.




Hanya saja, seberapapun usahanya untuk melupakan kata-kata tersebut, Y tetap terperdaya bisikan buruk dari pikiran dan telinganya bahwa mengapa di tempat suci ini seseorang bisa berkata kasar, apapun alasannya, apalagi hanya karena sebotol aqua. Y berkata, jika ini terjadi padanya beberapa tahun lalu dia pasti sudah akan marah dan balas mengabaikannya.

Y berkata, sejak awal dia sudah bersiap dengan ujian sabar apapun disana. Tapi apapun alasannya itu pasti tidak seberapa besar dibanding nikmat yang diberikan padanya saat ini, sehingga Y malu untuk membalas hal buruk. Mengingat situasinya, Y lebih banyak membaca al-quran atau berdzikir dibanding mengobrol dengan X.

Untuk menetralkan perasaannya Y mencoba bercanda dengan menceritakan hal tersebut kepada teman lainnya bahwa Y mendapat kata umpatan hewan dari X. Teman lain hanya tertawa, tidak menyadari betapa tidak mengenakkan itu baginya. Lantas sepertinya ini jawaban Allah untuk Y.

Saat itu kami sedang duduk menunggu waktu shalat di rooftop masjid, di tempat yang doa-doa langsung terkirim ke langit, tiba-tiba ada seorang perempuan sebaya kami mengulurkan tangan kepada Y yang sedang duduk sendirian berdzikir – perempuan tersebut memberikan gift berbentuk kertas tebal semacam pembatas buku.

Lembaran kertas bertuliskan kata-kata mutiara arab. Begini isinya  :

 (إِنَّ بَعْدَ الصَّبْرِ بُشْرَى) - (إِنَّ بَعْدَ الْعُسْرِ يُسْرًا)

Artinya : Sesungguhnya setelah kesabaran (akan ada) kabar gembira. Sesungguhnya setelah kesulitan (ada) kemudahan."

Saya melihatnya dari jauh, Y tersenyum tiba-tiba melihat kertas tersebut. Dia mencoba mencari arti dari kata itu dan lantas raut wajah sedihnya perlahan hilang. Jawaban yang sangat jelas entah dipikirkan bagaimanapun juga. Sepertinya Allah ingin menghibur Y sekaligus mengingatkan Y – bahwa dari kesabaranmu akan ada kegembiraan lain. ya,  kegembiraan itu berupa kelapangan hatimu sendiri. Kegembiraan itu bisa jadi hilangnya kesedihan dan amarah dari wajahmu.

Kamu tidak perlu menjadi sedih atas kata-kata orang lain. Kamu tidak bertanggung jawab atas kata-kata buruk yang diucapkan orang. Kamu juga tidak bertanggung jawab atas alasan apapun yang dimiliki orang lain untuk melakukan hal buruk. Kamu hanya akan bertanggung jawab jika kamu mengambil pilihan untuk membalasnya atau menyimpan dendam untuknya.

Setelahnya, Y berkata kepada saya, Tidak terbayang lagi kata-kata buruk itu di telinga atau pikirannya. Tidak terbayang lagi kemarahan dan rasa sedihnya, Y hanya merasa Allah lebih menyayanginya dengan mengirim pesan langsung itu padanya.

Katanya kepada saya, “biarlah itu jadi penghapus dosa saya. Biarlah itu jadi penambah pahala saya”. Amin. Jeddah 16 februari 2026

Best Regards, Latifa Mustafida

Tidak ada komentar

Terima kasih telah berkunjung.

Latifa Mustafida