PERSPEKTIF


              Bicara soal perspektif, Maha besar Allah yang menciptakan manusia begitu beragam sepaket dengan ciri khas dan keunikannya. Setiap manusia punya wajah, nama, pemikiran, dan bahkan watak yang berbeda, meskipun begitu – baik dan buruk tidak menjadi keputusan sepihak dalam soal perspektif. Ini soal cara pandang manusia.

              Perspektif menurut rangkuman AI adalah cara pandang atau sudut pandang seseorang dalam melihat, memahami, menafsirkan sesuatu, atau kerangka berpikir yang dipengaruhi nilai, asumsi & pengalaman seseorang untuk memahami dunia. Intinya, perspektif menentukan bagaimana kita "melihat" dan mengartikan realitas, baik secara harfiah (visual) maupun konseptual (pemikiran).

Menurut KBBI (kamus besar Bahasa Indonesia), arti perspektif adalah : “Cara pandang, pandangan”. Merujuk pada KBBI, bisa saja seseorang melihat atau menilai dari hubungan yang pernah dia lihat atau Jalani, agama, ekonomi, atau hal lainnya yang banyak sekali untuk dipertimbangkan.

Dalam kajian psikologis – perspektif manusia dapat dilihat dari berbagai sisi, bisa jadi golongan darah, watak, type kepribadian, genetic dan bahkan lingkungan atau pekerjaan. Dari latar belakang tersebut kita bisa mengerti dan memahami mengapa seseorang melihat hal ini begini sedangkan  orang yang lain melihatnya begitu.




Sebagai contoh, ambil 4 orang sedang duduk di tempat yang sama di sebuah mall, di hadapannya ada seorang ibu yang bermain membawa 2 anaknya tanpa pengasuh dan kebetulan tidak membawa suaminya. Tanyakan kepada masing-masing orang apa pendapat yang ada di kepala mereka?

Orang yang satu bisa saja berkomentar “bersyukur ya bahagia punya anak 2 sehat semua”, sementara yang satu berkomentar, “itu bapaknya kemana kok dibiarin ngurus anak sendirian”, yang satu lagi bisa saja berkomentar, “enak ya bisa jajan tanpa mikir ke mol bawa 2 anaknya”, yang terakhir hanya diam tidak berkomentar apapun. Semua komentar tadi bisa jadi bersumber dari perspektif dan realitas dia menghadapi dunia. Si orang pertama berkomentar karena sampai dengan saat ini sudah berupaya berulang kali namun belum dikaruniai anak, sementara orang kedua yang selalu ditemani suaminya heran mengapa seorang Wanita bisa dibiarkan sendiri mengurus anaknya karena dia tidak pernah mengalaminya. Begitupun dengan orang ketiga dan orang ke-empat.

Dalam cara pandang itu, setiap orang punya alasan  dan history nya masing-masing yang tidak akan pernah kita ketahui tanpa bertanya atau mengenal dekat orang tersebut. Perspektif kita sangat mungkin berbeda dan bisa jadi beberapa memiliki kesamaan, karena pendidikan, karena pengalaman, asumsi atau lingkungan – maka dengan beberapa komponen tadi seseorang akan memutuskan bagaimana ia memilih kacamatanya sendiri.

Sebagai contoh lain, biarkan 2 orang melihat 1 pesan teks dari orang lain dan diminta mengartikannya, jawaban  yang kalian dapat akan beragam dan mungkin akan jauh di luar bayangan kalian. Itu mengapa kita harus benar-benar memahami persoalan perspektif tidak perlu diperdebatkan namun justru dikomunikasikan.

Mempermasalahkan perspektif atau cara pandang seseorang bukan cara yang tepat untuk menjaga suatu hubungan sosial, namun melihatnya berbeda sudah cukup. Perspektif sangat dapat diolah dengan kematangan berpikir setiap orang sehingga setiap orang dapat menerima begitu banyak perbedaan dalam cara pandang pada manusia. Dengan perspektif, kalian bisa merasa bahagia, cukup, sedih, tapi juga  bisa merasa terluka tersakiti. Oleh karenanya kita diminta membersihkan kacamata kita.

Kacamata untuk memandang, melihat, menilai.

Kacamata untuk melihat alasan paling nampak atau alasan tergelap manusia lain melakukannya.

Mari berjuang memperbaikinya.

Semoga bermanfaat!

               

              

Best Regards, Latifa Mustafida

Tidak ada komentar

Terima kasih telah berkunjung.

Latifa Mustafida