Sudah lebih dari satu bulan
musibah banjir bandang Sumatera berlalu. Selain banyaknya kesedihan yang kita
lihat karena hilangnya nyawa – harta benda - keluarga dan tempat berlindung, kita
dapat melihat keteguhan hati – penghambaan dan kepasrahan. Alih-alih
sibuk mencari rasa iba – meratap – yang kita lihat sebaliknya, mereka tetap
beribadah, bergotong royong membersihkan masjid, mencari alquran, meminta
mukena layak, rasa-rasanya – masih banyak yang bisa kita pelajari dari
mereka.
Di balik kesedihan dan banyaknya kekurangan yang mereka rasakan mereka tetap
tertawa, bersyukur, atas waktu, atas hidup dan berusaha bangkit, mereka mengambil
pelajaran positif – iman mereka teruji dan rasa syukur mereka layak diberi
apresiasi.
Di balik musibah itu, terdapat renungan
yang dalam bahwa harta – nyawa – keluarga kita sesungguhnya hanya titipan,
kapanpun bisa diambil tanpa pemberitahuan. Bukan kewajiban kita memegangnya
erat dan tidak mengikhlaskan. Bukan kewajiban kita membebani hati dengan mencengkeramnya
erat-erat. Betapa hebatnya mereka yang tetap berserah pada Allah setelah semua
yang terjadi.
Melihatnya menyadarkan kita bahwa apapun yang kita kumpulkan tidak
pernah bisa dibawa ke liang lahat. Apapun yang kita banggakan tidak akan
selamanya bertahan. Seluruh harta dan sarana yang kita miliki tidak
pernah benar-benar menjadi milik kita.
Miris rasanya melihat mobil – motor – rumah – barang berharga lain
bahkan nyawa terbawa arus, mengalir dan tertimbun entah dimana. Menjadi benda
mati, rongsok, tidak lagi berharga. Puing-puing bangunan dan bangkai kendaraan
menjadikan lokasi seperti tanah mati yang dihuni zombie. Seolah waktu yang dihabiskan untuk mengumpulkan
semua itu tidak ada harganya lagi.
Waktu berhenti. Kesombongan mati.
Kita diingatkan lagi bahwa manusia tidak ada apa-apanya dibanding kehendak Allah. Dibanding alam, bumi, dunia, kita tidak ada apa-apanya. Selalu ada kehendak yang lebih besar yang tidak kita ketahui dan kita wajib meyakini bahwa segala hal tersebut adalah kebaikan menurut rencana Allah. Menyimpan hikmah dan tersimpan rahasia yang tidak kita pahami. Di hadapan kemarahan alam, tidak ada lagi si kaya si miskin, semua predikat hilang, yang ada hanya manusia bernyawa atau tidak.
Kita diingatkan lagi hal-hal sederhana seperti udara, air bersih, jalanan beraspal rata, pakaian ganti yang kita gunakan setiap harinya adalah karunia, kemudahan akses itu adalah karunia, rumah teduh untuk kita bernaung setiap waktu itu karunia. Hal-hal yang kita sepelekan itu ternyata berharga. Jadi mari bersyukur atas pesan dari aceh ini untuk kita yang melihatnya.
Kita diingatkan lagi untuk lebih bijak menggunakan waktu, energi, ilmu karna
kesempatan itu tidak terganti. Sebelum usia kita berhenti, mari pergunakan
dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai musibah yang telah terjadi pada saudara
kita tidak membuat kita merenung dan mengambil Pelajaran. Usia kita terbatas
dan wajib bagi kita mempertanggungjawabkannya.
Akhirnya sekali lagi kita menyadari.
إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
"Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya-lah
kami akan Kembali”.
Persiapkan bekal terbaik untuk Kembali. Semoga yang tertimpa musibah
diberikan kekuatan dan segera putih. Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung.
Latifa Mustafida