Selama
umroh, saya seringkali berfikir begini, begitu banyaknya Pelajaran yang
diberikan saat kita beribadah disana. Selain hati yang tenang, kekuatan, tekad,
ada hal lain yang selalu umroh ingin katakan kepada kita. Semoga
kita pandai menangkapnya.
Dia
berkata, kembalilah kesini setelah memperbaiki diri. Kembalilah kesini untuk
memperbaiki diri. Kembalilah kesini untuk menjadi versi terbaik dari diri.
Berikut
beberapa hal yang menurut saya ingin umroh kataka, cekidot!
1.
Bersyukur
Tidak
semua orang diberi kemudahan dan rejeki cukup untuk dapat beribadah disana.
Tidak semua orang diberi waktu dan kesehatan untuk melakukan ibadah secara
maksimal ketika disana, maka bersyukurlah. Dengan bersyukur 1 hal sudah
teratasi karena masalah lain akan mudah terbantu.
Bersyukurlah,
karena kamu diberi paket lengkap terbaik kehidupan - rejeki, kesehatan, waktu,
kesempatan, dan pelajaran terbaik karena bisa melaksanakan yang belum tentu
orang lain bisa rasakan.
2.
Bersabarlah atas semua
Semua
hal yang terjadi disana adalah ujian jika kamu menganggapnya demikian, tapi
akan menjadi nikmat juga jika kalian menganggapnya demikian. Jalan kaki
yang jauh, antrian mengular, panas menyengat, berdesak-desakan, dan masih
banyak lagi, tapi dimana lagi kita bisa merasakannya selain disana ?
Semua
orang berikhtiar untuk beribadah dan mencari kebaikan untuk diri sendiri,
dimana lagi akan kamu dapatkan nikmat seperti itu disana ? saya bilang itu
nikmat yang membahagiakan, meski lelah dan letih terasa di badan.
3.
Hati-hati dalam bicara
Allah
tidak menerima perkataan buruk dan sombong yang diucapkan hambanya. Saya ingat
persis, saya tidak berniat buruk atau sombong ketika saya menelpon teman
sekamar saya yang saat itu masih di masjid. Kebetulan saya sendirian pergi
malam hari menemui teman pesantren saya, dengan entengnya saya berkata “insya
allah gabakal nyasar (begitu menurut teman saya), pasti dibantuin Allah”.
Saya berkata begitu karena sudah yakin jalur dan beberapa kali aman-aman
saja. tapi mungkin itu dinilai sombong oleh Allah meski sedikit saja.
Selain
itu, yang saya ingat, karena gagal thawaf saya mengeluh kepada teman yang lain
“padahal saya pingin jalan-jalan yang banyak (dengan thawaf maksudnya)”.
Menariknya,
saya yang jarang sekali nyasar dan tidak memperhatikan jalan dibuat bingung.
Saya bahkan melewati hotel 2x bolak balik yang artinya saya berputar-putar
disitu 4x, mungkin lebih.
Dalam
perjalanan itu seketika saya sadar dan minta maaf pada Allah, ya Allah
makasih udah dikabulin jalan-jalannya, tapi maaf jalan-jalannya ga gini juga
hhe. Setelah saya istighfar dan minta ampun, syukurnya hotel saya
ketemu.
Mengingatnya
kembali membuat saya merenung panjang bahwa
segala yang terjadi pada kita adalah sebab perkataan dan perbuatan kita
sendiri. Maka penting untuk berhati-hati ketika bicara.
4.
Berprasangka yang baik
Saat
itu, waktu subuh, setelah shalat di hadapan kakbah –secara spontan saya bilang
ke teman, “mau thawaf sunnah ga?” Alhamdulillahnya teman saya berkenan.
Singkatnya, mulailah kami memutari kakbah, dalam hati saya berniat siapapun
yang lewat akan kami beri jalan, siapapun yang kesulitan akan saya bantu.
Di
tengah-tengah perjalanan, muncul keinginan saya untuk mengajak teman saya mencium
kakbah meskipun kami hanya Perempuan berdua tanpa laki-laki insya allah bisa
dengan bantuan Allah.
Syukurnya,
aemua keinginan saya terkabul hari itu, mudah, ringan, dan seperti dituntun
kesana menciumnya. Allah mudahkan kami dan nikmat sekali. Meski berdesakan
rasanya nikmat dan lapang sekali. Tidak ada kesulitan sama sekali. Diantara
pikiran baik itu adalah, saya yakin Allah akan memudahkan saya jika saya
memudahkan yang lainnya. Saya yakin Allah akan meringankan kaki saya jika saya
membantu yang lainnya.
Pelajaran
pentingnya, berfikirlah yang baik dan lakukan yang baik, insya allah Allah
melihatnya.
5.
Makkah Madinah adalah pengingat,
bukan ritual wajib.
Jika
kamu menganggap hanya disana tempat kamu bisa beribadah maksimal, kamu salah.
Makkah dan Madinah adalah pusat kiblat tapi bukan kewajiban, refleksi padang
mahsyar, refleksi titik kumpul manusia yang nanti akan dimintai
pertanggungjawaban. Karena janji pahala yang berlimpah, kita berlomba-lomba
beribadah disana, sayangnya kita hanya singgah paling lama 12 hari disana
atau 40 hari untuk haji – kita tidak selamanya tinggal disana.
Jadi renungkan kembali,
Makkah Madinah adalah pengingat bagi kita – bahwa kita bisa melakukan
semua usaha dan kebaikan itu seperti disana, sama baiknya, sama maksimalnya.
Ingat ini kembali, kamu adalah orang yang sama, dimanapun kamu berada,
dimanapun ibadahnya.
Semoga
kita diberikan rezeki materi dan kesehatan untuk dapat beribadah kesana.
Semoga
bermanfaat!

Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung.
Latifa Mustafida