Beginilah tulisan ini
dibuka, saya pingin berbagi, saya pernah kesulitan berkomunikasi dengan orang
lain – yang pada saat itu saya berfikiran, saya nggak biasa curhat ke orang
tua, temen, atau siapapun. Saya nggak percaya kalo di dunia ada yang bisa saya
percaya.
Saya pingin, orang
lain bisa ngerti apa yang saya mau, apa yang saya rasain, tanpa harus
capek-capek bicara. Jawabannya, Ya mustahil, nihil.
Bahkan dengan bicara pun,
belum tentu orang akan bisa memahami, menerima, atau berfikiran terbuka untuk
menerima dan memahaminya. Akan jadi hal aneh bin ajaib kalo ada orang yang
selalu bisa ngerti apa yang kamu pinginin tanpa kamu harus bilang. Sekalipun
ada, terlalu jarang mengharap ada orang yang demikian.
Betapa lucunya
bagian bahwa manusia pingin dimengerti tanpa mau ngerti kondisi yang lain. Intinya,
komunikasi bukanlah hal yang mudah sekaligus bukan hal yang sulit bagi beberapa
orang.
Sampai bertahun-tahun
kemudian, saya ngrasain, begitu banyak faedah yang bisa saya dapet dari nulis.
Dan begitulah tulisan ini sampai ke tangan kalian.
Menulis, membaca,
dan berbicara
adalah keterampilan terpisah yang harus dilatih, bukan keterampilan paketan
yang dimiliki semua orang. Dia adalah keterampilan yang harus dipelajari &
diupayakan masing-masing dari kita.
Mungkin betul jika semua
orang bisa membaca, tapi belum tentu semua orang menyukai dan menjadikan
membaca sebagai hobinya. Itulah bedanya. Pada taraf ini, saya cuman bisa
bilang, betapa ruginya mereka yang bisa membaca tapi tidak mau membaca, karena
membaca membantu menyelipkan sedikit ilmu yang benar di kepala diantara ribuan
informasi yang mungkin saja sudah mendarah daging dan mungkin saja tidak dapat
diperbaiki.
Selain pembaca handal, saya
seringkali kagum pada orang-orang yang bisa menuangkan apa yang dia rasa dengan
baik dalam suatu tulisan atau kata-kata. Yang napasnya, titik komanya,
penggalan perasaannya, ritme lingkungan & suasananya nyata. Seolah-olah
seperti gambaran di depan mata, mudah dibayangkan. Lantas, setelah kita dibuat
terpukau oleh gaya bahasanya, kita masih dibuat kaget dengan gaya bicaranya
yang sama baiknya ketika menyampaikan materi.
Pada intinya, menulis
adalah salah satu media, bukan satu-satunya. Sarana melepas, mengingat, mengkoordinir.
Menulis bukanlah
barang kaku, dia bisa berbentuk komedi, sastra, cerpen, atau sesederhana status
pengingat bagi diri sendiri atau orang lain.
Oke, Sebut saja Raditya
Dika yang awalnya menuliskan isi kepalanya ke dalam sebuah blog. Saya yakin mereka juga tidak memahami bahwa
tulisan mereka bisa disukai banyak orang, sekilas mungkin lebih seperti curhat
remaja. Tapi ternyata, proses menulis itu sendiri yang mahal, selalu ada hasil yang
bisa kita lihat. Yang bisa kita rasakan, beberapa kadang malah jadi ladang penghasilan.
Dengan menulis kita
dipaksa diajak berpikir sistematis. Tidak harus bagus atau menarik, menulis saja. dari proses
tersebut, yang awalnya hanya diary kacangan, lama kelamaan alur menulis dan
ceritanya mulai runut. Bahasa kalian perlahan berkembang dan mudah dipahami,
tidak lagi berputar-putar. Tulisan
kalian menggambarkan bagaimana pribadi kalian, asumsi, respon kalian terhadap
sesuatu, dan bahasa yang kalian gunakan sehari-hari. Artinya, makin lama
jam terbang seseorang dalam menulis, akhirnya dia tau bahasa apa yang pantas
digunakan, percakapan apa yang pantas dibuat, dimana dia harus berhenti atau lanjut,
atau dimana bagian yang lebih bagus untuk dikembangkan.
Dari proses itu, keahlian berbicara dan menyederhanakan
gagasan lebih terlatih. Yang awalnya sulit dibentuk, lama kelamaan arahnya
mudah dimengerti. Akhirnya kalian sadar,
dalam hal apapun, yang terpenting bukanlah soal kuantitas, tapi kualitas. Makin
lama kalian menjadi lebih paham, tidak semua hal harus ditulis, dibagikan atau
disimpan, kita tau bahwa hanya hal-hal terbaik yang bisa kamu bagikan kepada
orang lain.
Setiap tulisan punya
sebuah proses panjang yang tidak dipahami orang lain. proses mengolah,
menuangkan, menuliskan, memahami, dan menceritakan. Dia telah mengalami ribuan proses
berpikir si penulis, hingga akhirnya sebenarnya, tulisan merupakan proses
berpikir itu sendiri dan deep talk dari penulis untuk ditelurkan.
Selain itu, tulisan
memaksa kamu memilih dan memilah mana hal yang penting atau tidak, baik atau
tidak, bermanfaat atau tidak. Sampai di tahap itu, tulisan berubah wujud
membantu masalah menemukan motivasi, solusi dan opsi.
Bagi saya menulis adalah
salah satu media curhat paling jenius. Dengan menulis, kita melepas penat,
emosi, cerita, pengetahuan, dan juga kenangan. Kalo ingatan kamu nggak
bisa bantu ngingat, biar tulisan yang bantu.
Jadi, mulailah menulis,
setidaknya jika kalian tidak bisa menceritakan hal-hal penting pada orang lain,
kalian bisa memulainya dengan menulis sembarangan, menuliskan apa yang kalian
rasakan. Setidaknya menulis mengurangi beban dan me-manage kapasitas harian. Jangan
khawatir, tulisan yang bagus bukan tulisan mereka yang sudah terkenal atau
penulis handal.
Tulisan yang baik
adalah tulisan yang dimulai,
Tulisan yang bagus itu tulisan yang perlahan memperbaiki diri kalian.
Semoga Bermanfaat!
